Maksiat Menyebabkan Kerendahan dan Kehinaan
Rangkuman Kajian
Kajian Kitab Ad Daa Wa Ad Dawaa karya Al Imam Ibnu Qayyim
Pemateri : Ustadz
Syafiq Al Khatieb, Lc, MA.
Senin,
6 Rabiul Akhir 1444 H/ 31 Otober 2022
Jam
: 18.00 – selesai
Tempat
: Masjid Nurul Iman Blok M Square Lt. 7.
“Menyebabkan Kerendahan dan Kehinaan”
Allah membagi makhluknya menjadi dua yang mulia yang tinggi dan yang hina yang rendah. Ketaatan, ibadah yang dilakukan seseorang akan terus meningkatkan derajatnya. Ahlul maksiat Allah jadikan makhluk yang paling hina, menjadikannya penuh dengan kerendahan, menurunkan derajatnya. Derajatnya itu menjadi turun, menjadikan kadar dan kedudukannya merosot didunia bahkan diakhirat, terlebih lagi dia melakukan dosa besar, akan semakin turun dan turun kedudukannya.
Ketika orang udah turun derajatnya sudah jauh, maka untuk naik kembali butuh perjuangan yang sangat besar. Lalu hatinya juga sudah terpengaruh karena dosa dan maksiat yang dilakukan, untuk sampai ke titik naik sangat berat dan dia harus berusaha, istighfar dan bertaubat untuk kembali, dan butuh waktu yang sangat banyak, lebih berat daripada naik di awal tadi.
Banyak yang keliru dan salah paham dalam melakukan kesalahan besar. Maka naik 1000 derajat yang sudah diusahakan tidak bisa menutupi jatuhnya derajat karena sebab dosa yang ia lakukan. Saking jauhnya ia terjatuh karena satu kesalahan. Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan 1 kata yang tidak diperhatikan baik buruknya, tidak hati-hati dalam berbicara, maka itu bisa menyebabkan ia terjatuh begitu jauh seperti jauhnya antara timur dan barat, sangat drastis turunnya.
Untuk itu, menaikkan derajat kita agar terus naik tingkatan kedudukan yang paling penting adalah menjaga amalan-amalan wajib ini yang nomor 1 dan paling berpengaruh, kemudian amalan-amalan sunnah. Dalam hadits qudsi,
“Adalah seorang hamba mendekatkan dirinya kepadaKu yang lebih aku cintai daripada amalan-amala yang Aku wajibkan”
- “Senantiasa hambaKu mendekatkan dirinya kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sampai Aku mencintainya”
Sehingga nomor 1 yaitu mendekatkan diri kita kepada Allah dan menjaga amalan-amalan wajib, dari sekian banyaknya amalam wajib yang Allah perintahkan yang paling besar pengaruhnya terhadap derajat kita setelah kalimat tauhid yaitu mengerjakan sholat 5 waktu, paling afdhol. Ketika seorang muslim menjalankannya tepat pada waktunya, menjalankannya dengan berjamaah bagi laki-laki, memperhatikan rukun-rukunnya, memperhatikan wajib-wajibnya, memperhatikan syarat-syaratnya, menambahkan sunnah-sunnah sholatnya, maka ini sangat berpengaruh meninggikan derajat seseorang.
Sholat bukan hanya sangat berpengaruh mengangkat, mendongkrak derajat seseorang dihadapan Allah SWT, disisi lain sholat yang dilakukan dengan benar akan mencegah supaya derajatnya tidak turun dan tetap stabil, bahwasanya sholat menjadi tameng untuk seseorang dari berbuat keji dan munkar. Kemudian hal lain yang bisa meningkatkan derajat kita dihadapan Allah SWT yaitu kita berusaha memperhatikan hal-hal yang bisa membantu melipat gandakan pahala, dia berusaha mencari titik-titik, waktu-waktu yang dapat melipatgandakan pahalanya, contohnya seperti pada bulan Ramadhan, contoh lain di 10 hari awal bulan Djulhijjah, lalu di malam Lailatul Qadr, kemudian di tempat-tempat mulia dan berkah seperti di Masjidil Haram.
Yang paling besar mempengaruhi turunnya tingkat derajat seseorang yang berikutnya yaitu melakukan dosa besar, pelajari apa saja yang termasuk dosa-dosa besar. Ada didalam Kitab Al Kabair karya Imam Ad-Dhahabi. Turunnya derajat seseorang ini perkara yang lazim bagi seseorang, misalnya karena disebabkan kelalaian, ketika ia sadar maka ia akan cepat menyadari dan lebih meningkat derajatnya untuk naik ketika ia memperbaikinya.
Ibnul Qayyim mengisyaratkan disini ada 3 perkara yang menyebabkan seseorang turun dari derajatnya dan tiga perkara ini berbeda-beda tingkatannya :
1)
Ia turun derajatnya karena Gofla/ Lalai. Maksud Ibnul Qayyim adalah bukan
berbuat dosa, ia hanya sekedar lalai dari mengingat Allah SWT. Ketika ia lalai
maka ia mudah untuk sadar dan akan lebih tinggi ketika ia akan meningkatkan
derajatnya lagi. Ini tingkatan yang paling ringan
2)
Dan sebagian orang ia turun derajatnya karena ia melakukan perkara-perkara yang
mubah (tidak berdosa), yang tidak ia niatkan untuk menolong ia dalam melakukan
ketaatan, orang yang seperti ini ketika kembali ke ketaatan maka ia kembali ke
derajat yang semula, namun bisa jadi tidak sampai ke derajat sebelumnya, atau
mungkinterkadang lebih tinggi dari derajat sebelumnya ketika melakukan
ketaatan. Jadi bisa lebih rendah, tinggi, atau di posisi semula di derajatnya
yang semula. Makan dan minum itu mubah, tapi ketika kita niatkan untuk menambah
tenaga untuk ibadah maka ini dapat nilai ibadah. Misal ketika tidur, itu kita
niatkan untuk beribadah kepada Allah maka akan bernilai pahala.
3)
Yaitu seseorang yang turun derajatnya karena ia melakukan perbuatan maksiat,
maksiat besar maupun maksiat kecil, orang seperti ini untuk kembali ke derajat
sebelumnya maka ia harus taubat nasuha taubat yang sungguh-sungguh untuk
kembali kepada Allah SWT.
-
Dalam masalah ini Ibnu Qayyim menjelaskan ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama (poin 3), orang yang turun derajatnya karena ia melakukan dosa bukan ghoflah (1) atau mubah (2) tadi, ketika ia melakukan dosa bertaubat kepada Allah SWT apakah derajatnya kembali ke posisi semula atau tidak bisa kembali ke posisi semula?
Dan Ibnul Qayyim memaparkan, karena taubat itu menghapuskan dosa, seakan-akan dosa itu tidak ada. Ada yang berpendapat ia tidak bisa kembali ke semula karena ia sudah terjatuh, adapun taubat ia hanya menghapus hukumannya saja tapi derajatnya tidak bisa naik karena sudah terjatuh. Lalu Ibnu Qayyim menjelaskan perumpamaannya seperti dua orang yang naik tangga namun tidak ada ujungnya, yang satunya turun 1 tangga, kemudian ketika mereka naik sama-sama maka gaakan sama posisinya, karena pasti yang satunya ketinggalan karena dia sudah turun 1 tangga tadi.
Kemudian menurut Ibnu Taimiyah, orang yang berbuat maksiat bisa saja kembali ke derajat semula, bisa saja tidak sampai ke derajat semula, atau lebih tinggi dari derajat sebelum maksiat, ini tergantung bagaimana kuatnya taubat dari seseorang itu. Dan apa yang dihasilkan dari maksiat mempengaruhi seseorang ini, misal apakah ia menyesal, apakah ia merendahkan dirinya, apakah ia kembali kepada Allah, apakah ia takut kepada Allah, apakah ia nangis kepada Allah SWT. Maka ia akan lebih tinggi derajatnya dari sebelum ia berbuat maksiat tadi, orang yang seperti ini maka perbuatan maksiatnya bisa menjadi rahmat untuknya. Dan ini menghapuskan ia dari penyakit ujub supaya ia tidak membangga-banggakan amalan yang dilakukan. Bagaimana menilai derajat seseorang setelah bermaksiat yaitu apa yang terjadi setelah ia bermaksiat apakah ia bertaubat sungguh-sungguh atau biasa-biasa saja. Apakah taubatnya berkualitas atau tidak.
Semoga bermanfaat. Barakallahu Fiik
-

Komentar
Posting Komentar